Saturday, July 3, 2010

Muted Group Theory (Cheris Kramarae): Sebuah Review

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

Kramarae menyatakan bahwa bahasa (language) secara harfiah, adalah sebuah man-made construction. Ia menegaskan bahwa bahasa dari sebuah budaya khusus tidak melayani semua orang yang mengucapkannya secara sama, karena memang tidak semua speaker memberikan kontribusi yang sama dalam formulasinya. Wanita, dan anggota dari kelompok subordinat lain, tidaklah bebas atau bisa mengatakan apa, yang ingin mereka katakana, kapan, dan di mana, karena kata-kata dan norma-norma yang mereka gunakan telah diformulasikan oleh kelompok dominan, yaitu pria.

Menurut Kramarae, kata-kata wanita tidak dihargai dalam masyarakat kita. Pemikiran wanita mengalami hal yang sama. Ketika wanita mencoba meniadakan ketidakadilan ini, kontrol pria terhadap komunikasi menempatkan wanita dalam ketidakberdayaan. Man-made language membantu mendefinisikan, menjatuhkan, dan meniadakan wanita. Wanita adalah the muted group (kelompok yang dibungkam). Tipe dominansi pria pada bahasa hanyalah satu aspek saja dari berbagai cara untuk membungkam kepentingan wanita dalam masyarakat.

Muted Groups: Black Holes in Someone Else’s Universe
Ardener berasumsi bahwa ketidakpedulian terhadap pengalaman wanita merupakan masalah unik gender bagi social-anthropology. Ia kemudian sadar bahwa mutedness (kebisuan) disebabkan karena kekurangan kekuasaan (power). Orang-orang yang memiliki sedikit kekuatan tidak menyadari masalah bahasa yang mereka gunakan untuk mengungkapkan persepsi mereka.

Menurut Ardener, muted structures ada di dalamnya, tetapi tidak sadar dalam penggunaan bahasa yang diciptakan kelompok dominan. Sebagai hasilnya, mereka diabaikan, disia-siakan, dan tidak terlihat. Seperti black holes in someone else’s universe.

Namun Ardener mengingatkan bahwa muted group tidak selalu diam. Isunya adalah apakah orang dapat mengatakan hal yang ingin mereka katakan saat dan di tempat mereka ingin mengatakannya. Atau haruskah mereka me-re-encode pemikiran mereka untuk membuat mereka dimengerti oleh public dominan? Kramarae merasa yakin bahwa posisi kekuasaan dominan pria dalam masyarakat menjamin bahwa cara ekspresi publi tidaklah secara langsung tersedia bagi wanita.

Pada hakikatnya, Kramarae hanyalah salah seorang feminis yang ingin megungkapkan kebungkaman yang sistematik atas suara wanita (women voice). Para feminis memiliki agenda penelitian yang menganggap penting pengalaman wanita.

Kekuatan Maskulin untuk Menamai Pengalaman
Karamarae memulai bahasannya dengan asumsi bahwa wanita melihat kenyataan di sekitarnya dengan cara yang berbeda dengan pria karena keduanya mengalami pengalaman dan aktivitas yang berbeda berdasarkan pembagian kerja (division of labor). Ia yakin bahwa ketidaksesuaian kekuasaan antar jenis kelamin memastikan bahwa wanita memandang dunia dengan cara yang berbeda dengan pria. Seringkali pengalaman wanita ini harus diungkapkan kemudian disensor terlebih dahulu oleh pria. Padahal saling pengertian sebenarnya mampu terbentuk jika ada diskusi lebih lanjut mengenai hal itu. Namun, masalah yang dihadapi wanita adalah diskusi itu tidak pernah benar-benar terjadi di lapangan. Persepsi pria dominan karena dominansi politik mereka, yang kemudian mengekang kebebasan berekspresi wanita sebagai mode alternatif di dunia. Pemilik mode ekspresi di dunia adalah pria dan pria pula yang membingkai diskusi.
Menurut teori symbolic interactionism dari Mead, perluasan pengetahuaan adalah perluasaan penamaan (naming). Jika ini benar, maka siapapun yang punya kemampuan naming, ia akan memiliki kekuasaan yang luar biasa. Selanjutnya, menurut pendekatan socio-cultural, bahasa membentuk persepsi kita akan realitas. Maka, menurut Kramarae, pengabaian terus-menerus terhadap kata-kata, dapat membuat pengalaman itu menjadi unspoken, bahkan unthought. Akibatnya, lama-kelamaan, muted women akan meragukan validitas pengalaman dan legitimasi perasaan mereka.

Pria sebagai Gatekeepers Komunikasi
Meskipun public mode of expression memiliki begitu banyak kosakata untuk mendeskripsikan pengalaman feminin, wanita akan tetap di-muted ketika mode of expression mereka diabaikan. Dalam masyarakat terjadi pembangunan kultural tentang peran luar biasa pria dengan tidak mengakui atau mempublikasikan seni, puisi, skenario, public address, dan esay akademik wanita. Selama 500 tahun wanita dilarang membuka bisnis. Bahkan pengaruhnya dalam media cetak dibatasi hingga tahun 70-an. Kramarae menyebutnya malestream expression. Menurut Dorothy Smith, pria menganggap penting hanya pembicaraan yang diucapkan pria. Lingkaran pria yang menulis dan berbicara sangat penting bagi satu sama lain. Apa yang dilakukan pria hanya relevan bagi pria, ditulis oleh, tentang, dan untuk pria. Pria didengarkan dan mendengarkan satu sama lain.

Janji yang Tak Terpenuhi tentang Internet
Kita berasumsi bahwa ketika internet muncul, era gatekeeping yang dilakukan oelh pria, telah berakhir. Namun tidak demikian menurut Kramarae. Di bawah ini ada 4 kiasan untuk menggambarkan hal itu:

Information Superhighway, yaitu masih sulit bagi wanita untuk mengakses pelayanan inernet dengan harga yang relative masih tidak terjangkau bagi wanita, serta situs tidak dirancang secara khusus untuk menyambut wanita.
The New Frontier, yaitu pria berpandangan bahwa komputer dan online tidak cocok bagi wanita.
Democracy, yaitu karena kaum wanita belum menjadi kelompok yang ‘membuat pengetahuan (knowledge), maka wanita justru harus lebih berhati-hati ketika menelusuri dunia maya.
A Global Community, lewat internet, wanita bisa saling berbagi pengalaman dengan orang lain di seluruh dunia. Namun internet menghadirkan komunitas yang telah eksis tanpa mendorong pihak-pihak yang tidak hadir untuk berpartisipasi. Untuk mendapt kepercayaan, para pria membuat site ‘women only’ untuk menipu wanita dan mendapatkan kepercayaan mereka.

Women’s Truth into Men’s Talk: The Problem of Translation
Mengasumsikan bahwa dominansi maskulin dalam komuniksi publik adalah sebuah realitas yang tengah terjadi, Kramarae menyatakan, untuk berpartisipasi dalam masyarakat, wanita harus mentranslasikan model mereka ke dalam sistem ekspresi pria yang dipakai masyarakat selama ini. Seperti bicara dengan bahasa kedua, translasi ini butuh proses yang terus-menerus. Apa yang ingin dikatakan wanita tidak dapat diungkapkan secra benar-benar tepat karena bahasa yang ada bukanlah buatan mereka. Dan, layaknya seperti bahasa kedua, ketika translasi selesai dilakukan, kata-kata yang telah ditranslasikan itu tidak benar-benar mengungkapkan maksud wanita.

Speaking Out in Private: Networking with Women
Menurut Kramarae, wanita cenderung mencari cara yang berbeda dalam mengekspresikan pengalamannya kepada public. Wanita menggunakan diary, jurnal, surat, cerita, dongeng, gossip, seni, puisi, nyanyian, maupun parodi nonverbal. Pria biasanya lupa akan sekitarnya jika telah berkomuniksi dengan wanita lewat channels tersebut. Karamarae yakin bahwa pria memiliki kemampuan yang lebih rendah dari wanita dalam mengerti maksud dari lawan jenis. Namun pria tetap melakukan itu karena mereka sadar bahwa mendengarkan wanita itu perlu untuk membangun kehormatan yang lebih besar lagi untuk dirinya.

Speaking Out in Public: A Feminist Dictionary
Tujuan utama dari muted theory adalah untuk mengubah man-made linguistic system yang membuat wanita tidak bisa maju dan berkembang. Menurut Kramarae, salah satunya dibakukan oleh kamus-kamus yang beredar. Kemudian ia dan Paula Treichler membuat kompilasi kamus feminis yang menawarkan definisi untuk kata-kata wanita.

Sexual Harassment: Coining A Term to Label Experience
Pelecehan seksual (sexual harassment) tidaklah terjadi secara acak menurut Kramarae. Wanita telah menjadi objek tetap pelecehan seksual. Ini terjadi karena wanita tidak memiliki kekuasaan (power) yang besar dalam masyarakat sehingga ia senantiasa dilecehakn dan direndahkan. Masih menurut Kramarae, istilah sexual harassment sendiri digunakan pertama kali pada sebuah kasus di pengadialn pada akhir tahun 1970. itu adalah kata legal petama yang didefinisikan oleh wanita. Dan bagi muted group, perjuangan untuk mengimbangi man-made language, terus berlangsung.

Kritik: Is A Good Man Hard to Find (And Change)?
Mengapa budaya patriarki dianut oleh kita? Mengapa pria begitu ingin mendominasi msyarakat? Pertanyaan tentang motif pria ini adalah sesuatu yang problematis. Menurut Kramarae, pria berusaha mengontrol wanita. Namun anggapan ini dibantah oleh Tannen. Tannen setuju bahwa perbedaan gaya komunikasi antara pria dan wanita menyebabkan ketidakseimbangan kekuasaan. Namun Tannen menolak alasan yang diajukan Kramarae. Menurut Tannen, penyebabnya adalah gaya yang berbeda (different style) antara pria dan wanita. Kramarae membantahnya kembali dengan menyatakan bahwa alasan itu terlalu naïve. Kramarae menyalahkan hirarki politik, pendidikan, agama, legal, ras, system support gender, dan kelas. Respons kita pada muted theory bergantung pada apakah kita mendapat manfaat atau malah menjadi korban atas sistem ini.

Standpoint Theory (Sandra Harding dan Julia T. Wood)

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

Dalam teori ini, Harding dan Wood menggagas bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui bagaimana keadaan dunia kita, yaitu dengan memulai penyelidikan kita dari standpoint kaum wanita dan kelompok-kelompok marginal lain. A standpoint adalah sebuah tempat di mana kita memandang dunia di sekitar kita. Apapun tempat yang menguntungkan itu, lokasinya cenderung memfokuskan perhatian kita pada beberapa fitur dalam bentangan alam dan sosial dengan mengaburkan fitur-fitur lainnya. A standpoint bermakna sama dengan istilah viewpoint, perspective, outlook, atau position. Dengan catatan bahwa istilah-istilah ini digunakan dalam tempat dan waktu khusus, tetapi semuanya berhubungan dengan perilaku dan nilai-nilai. Standpoint kita mempengaruhi worldview kita.

Menurut Harding, ketika orang berbicara dari pihak oposisi dalam hubungan kekuasaan (power relations), perspektif dari kehidupan orang-orang yang tidak memiliki power, menyediakan pendangan yang lebih objektif daripada pandangan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Yang menjadi fokus bahasannya adalah standpoint kaum wanita yang selama ini termarginalisasi.

Standpoint Seorang Feminis Berakar pada Filosofi dan Literatur
Georg Hegel (filosof Jerman) menganalisis hubungan majikan-budak untuk menunjukkan apa yang orang tahu tentang diri mereka, orang lain, dan masyarakat berdasarkan di mana mereka menjadi bagian dalam kelompok itu. Majikan dan budak memiliki perspektif yang berbeda ketika keduanya menghadapi realitas yang sama. Namun ketika ‘para tuan’ membangun struktur masyarakat, mereka memiliki kekuasaan (power) untuk membuat perspektif yang mereka miliki juga dianut oleh orang-orang dari kelompok yang lain. Referensi berikutnya adalah teori Karl Marx dengan konsep kaum borjuis dan proletarian serta ‘class struggle’. Para feminis mengganti konsep proletarian dengan kaum wanita, dan mengganti perjuangan kelas dengan ‘gender discrimination’. George Herbert Mead menggagas bahwa kebudayaan (culture) dianut oleh manusia lewat komunikasi. Dengan menggunakan gambaran prinsip symbolic interactionism, Wood menyatakan bahwa gender lebih merupakan sebuah konstruksi budaya daripada sebuah karakteristik biologis. Berdasarkan teori postmodernism, para feminis mengkritik kenyataan bahwa rasionalitas dan western science, didominasi oleh pria.
Harding dan Wood menggambarkan semua teori berdasarkan pendekatan konflik di atas, tanpa membiarkan teori-teori itu membentuk atau mempengaruhi substansi pendekatan standpoint mereka.

Wanita sebagai Kelompok yang Termarginalisasi
Para ahli teori ini melihat perbedaan-perbedaan penting antara pria dan wanita. Untuk menggambarkan ini, Wood menggunakan teori relational dialectic tentang autonomy-connectedness. Pria dianggap lebih otonom, sedangkan wanita dianggap lebih suka berhubungan dengan orang lain. Namun Wood melihat perbedaan seperti ini, serta perbedaan lain yang begitu luas antara pria dengan wanita, merupakan hasil dari cultural expectation serta perlakuan yang diterima pria dan wanita dari orang lain.
Selain isu gender, Harding juga menekankan kondisi ekonomi, ras, orientasi seksual sebagai identitas kultural tambahan yang dapat membuat orang berada di tengah masyarakat atau menjadi orang yang terpinggirkan. Standpoint theory menekankan pentingnya social location karena mereka yakin bahwa orang yang berada di puncak societal hierarchy adalah orang-orang yang memiliki previlise untuk mendefinisikan apa dan bagaimana artinya ‘menjadi wanita’, atau ‘menjadi pria’, atau hal-hal lain, bagian dari budaya, yang dianut masyarakat.

Knowledge from Nowhere versus Local Knowledge
Mengapa standpoint begitu penting? Karena, menurut Harding, kelompok sosial yang memiliki kesempatan untuk mendefinisikan problematika, konsep, asumsi, dan hipotesis yang penting dalam sebuah bidang ilmu, akan meninggalkan bekas sosialnya pada gambaran dunia yang berasal dari hasil penelitian dalam bidang itu.
Penekanan Harding terletak pada local knowledge untuk menentang pernyataan bahwa traditional western science yang mengungkapkan ‘truth’, bebas nilai dan objektif. Harding dan para ahli standpoint theory lainnya bersikukuh bahwa tidak ada kemungkinan bagi teciptanya perspektif yang tanpa bias, yang tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan, impartial, bebas nilai, atau terlepas dari situasi sejarah tertentu.

Namun Harding dan Wood tidak menyatakan bahwa standpoint wanita atau kelompok minoritas lainnya, memberikan pandangan yang jelas akan sesuatu. Situated knowledge akan selalu parsial. Para ahli standpoint theory memelihara perspektif bahwa kelompok subordinat memberikan gambaran dunia yang lebih lengkap dan karenanya, lebih baik daripada gambaran yang diberikan oleh kelompok masyarakat yang terhormat.

Objektifitas yang Kuat: Tinjauan yang Lebih Parsial dari Standpoint Wanita
Harding menggunakan istilah strong objectivity untuk menyebut strategi memulai penelitian ini dari kehidupan wanita dan kelompok termarginalisasi lainnya yang kepentingan dan pengalamannya, biasanya diabaikan. Mengapa standpoint wanita dan kelompok lain yang termarginalisasi dapat menampilkan perspektif yang lebih menyeluruh, lebih tepat, atau lebih benar dibandingkan perspektif pria yang berada pada posisi dominan? Wood menawarkan dua penejalasan. Pertama, orang-orang dengan status subordinat memiliki motivasi yang lebih besar untuk mengerti perepektif dari orang-orang dengan kekuasaan lebih. Alasan yang kedua, yaitu karena kelompok-kelompok ini biasanya dipinggirkan, maka mereka punya sedikit alasan untuk mempertahankan status quo.

Menurut Harding, perspektif objektif dari kehidupan wanitalah yang memberikan standpoint yang lebih disukai dalam melakukan proyek-proyek penelitian, hipotesis dan interpretasi.

Teori ke Praktik: Penelitian Komunikasi Berdasarkan Kehidupan Wanita
Ada contoh di bawah ini yang mampu menggambarkan sebuah model penelitian komunikasi yang berawal dari kehidupan wanita. Julia Wood mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seorang wanita kulit putih, heteroseksual, wanita profesional, yang memikul tanggung jawab untuk mengurus kedua orangtuanya hingga keduanya meninggal. Wood lantas melihat bahwa praktik-praktik gendered communication merefleksikan sekaligus memaksakan societal expectation kita bahwa caregiving adalah pekerjaan wanita. Ia mendengar kata-kata bahwa dirinya memang sudah seharusnya mampu mengurus orangtua dan keluarga, dari ayah dan koleganya.

Wood percaya bahwa kebudayaan itu sendiri harus direformasi dengan cara menjauhkan istilah caring terhadap afiliasi historisnya dengan wanita dan hubungan pribadi dan mendefinisikannya kembali sebagai hal yang penting dan merupakan bagian integral dari kehidupan publik kolektif kita.

Contoh lain tentang studi komunikasi yang berawal dari standpoint wanita adalah konsep invitational rhetoric yang diajukan oleh Sonja Foss dan Cindy Griffin. Foss dan Griffin mengajukan konsep offering sebagai pendekatan alternatif terhadap rhetoric yang merefleksikan kehidupan wanita. Invitational rhetoric adalah sebuah undangan untuk mengerti sebagai cara untuk menciptakan suatu hubungan yagn berakar pada persamaan, nilai yang tetap ada, dan self-determinism. Dalam offering, orator mengatakan apa yang mereka ketahui dan mengerti. Mereka menghadirkan penglihatan mereka akan dunia dan menunjukkan bagaimana dunia terlihat dan bagaimana dunia mempengaruhi mereka.

Kritik: Are Standpoints on The Edge Less False?
Beberapa kritik bagi teori ini adalah sebagai berikut:
 Meskipun standpoint theory pada awalnya dibangun untuk mengapresiasi nilai dari pespektif wanita, teori ini kemudian diaplikasikan pula pada kelompok-kelompok marginal lainnya. Karena pembahasannya menjadi semakin spesifik, maka konsep solidaritas kelompok yang menjadi inti teori ini patut dipertanyakan. Hekman dan Hirschmann menyatakan bahwa tidak ada sebuah ekspresi lewat kata-katapun yang bebas dari nilai, termasuk wanita dan kelompok-kelompok marginal lainnya,
 Konsep strong objectivity sebenarnya kontradiktoris. Jika ditinjau dari postmodern, standpoint theory menyatakan bahwa standpoint itu sifatnya relatif dan tidak dapat dievaluasi dengan kriteria mutlak. Di sisi lain, Sandra dan Wood menekankan bahwa perspektif wanita ini lebih bebas bias dan lebih netral daripada perspektif kelompok yang lebih terhormat.

Face-Negotiation Theory (Stella Ting-Toomey): Sebuah Review

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

Teori ini membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan budaya dalam merespons konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa setiap orang dalam setiap budaya sebenarnya selalu menegosiasikan face. Face adalah istilah kiasan untuk public self-image, yaitu bagaimana kita ingin diperlakukan oleh oran glain. Sedangkan facework berhubungan dengan pesan-pesan verbal dan nonverbal spesifik yang membantu memelihara dan memulihkan face loss (kehilangan muka), dan untuk menegakkan dan serta menghormati face gain. Teori ini menyatakan bahwa facework dari budaya individualistic sangat berbeda dengan facework budaya kolektivistik. Artinya, jika facework-nya berbeda, maka cara menangani konfliknya juga berbeda.

Collectivism Versus Individualism
Teori ini berdasar pada pembedaan antara collectivism dan individualism. Menurut Harry Triandis, perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari cara mendefinisikan tiga istilah, yaitu self (diri), goals (tujuan), dan duty (tugas). Menurut Triandis, orang yang kolektivis mendefinisikan self-nya sebagai anggota dari kelompok-kelompok tertentu, dia tidak akan melawan tujuan kelompok, serta melaksanakan tugas yang berorientasi pada lebih mementingkan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Orang-orang kolektifis biasanya menilai orang baru berdasarkan asal kelompoknya. Bukan berarti mereka tidak peduli pada tamu mereka, tetapi hal ini semata-mata karena mereka menganggap keunikan individual tidak lebih penting daripada group-based information.

Sedangkan orang yang individualis akan mendefinisikan self-nya sebagai seseorang yang independent dari segala kelompok afiliasi, tujuannya adalah memenuhi kepentingan pribadinya, dan melakukan segala tugas yang menurutnya menyenangkan dan menguntungkan diri sendiri. Selain itu, orang yang individualistis tertarik mengenal seseorang karena keunikannya dan kepribadiannya.

The Multiple Faces of Face
Ting-Tomeey melihat bahwa face menjadi perhatian universal bagi setiap orang. Ini terjadi karena face adalah perluasan dari self-concept, vital, dan identity-based resource. Menurut Brown dan Levingson, face adalah ‘the public self-image’ yang ngin ditampilkan sebagai diri oleh setiap orang dalam masyarakat. Ting-Toomey mendefinisikan face sebagai ‘the projected image’ mengenai diri seseorang dalam sebuah relational situation.

Selanjutnya, Ting-Toomey menyoroti isu-isu yang mengubah face menjadi objek studi multifaceted. Face bermakna berbeda pada orang yang berbeda, bergantung pada budaya dan identitas individualnya.

Face-restoration adalah strategi facework yang digunakan untuk mencanangkan tempat unik, mempertahankan otonomi, dan melawan segala usaha untuk menghilangkan kebebasan pribadi. Face-restoration adalah tipikal face strategy dalam budaya individualistis. Karenanya, ketika ada masalah, orang yang individualistis akan lebih membela dan meyalamatkan wajah mereka dengan menyalahkan situasi yang tengah terjadi.

Face-giving adalah perhatian untuk orang lain yang merupakan facework strategy untuk mempertahankan atau mendukung kebutuhan seseorang untuk menjadi bagian dari kelompok. Ini merupakan karakteristik face strategy yang digunakan masyarakat kolektifis.

Face: Linking Culture and Conflict Management─Menghubungkan Budaya dan Managemen Konflik
Teori face-negotiation dari Ting-Toomey menawarkan rantai kausal dua langkah dengan face maintenance sebagai rantai penjelasan antara budaya dan gaya penanganan konflik.

Type of culture → Type of maintenance → Type of conflict management

Berdasarkan karya M. Afzalur Rahim, Ting-Toomey mengidentifikasikan 5 respons yang berbeda pada berbagai situasi bardasarkan perbedaan kebutuhan, kepentingan, atau tujuan, yaitu:
Avoiding, yaitu menghindari diskusi dengan kelompok tentang perbedaan yang kita miliki.
Obliging, yaitu menyampaikan harapan atau keinginan kepada kelompok, tetapi menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kelompok.
Compromising, yaitu mengadakan give-and-take atau saling bertukar pikiran agar kompromi bisa diciptakan.
Dominating, yaitu teguh dalam mempertahankan pendapat pribadi demi kepentingan pribadi.
Integrating, yaitu saling bertukar informasi yang akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama.
Di bawah ini diperlihatkan diagram mengenai kelima tipe menagemen konflik berdasarkan culture-related face concern.





Pada diagram di atas, terlihat bahwa obliging, compromising, dan avoiding berada pada area collectivism. Ketiganya juga berada pada titik yang berbeda pada aarea tersebut, bergantung pada tingkat kepedulian terhadap self-face-nya sendiri. Begitu juga dengan integrating dan dominating. Terlihat bahwa integrating adalah level ketika seseorang meletakkan pendapat atau tujuan pribadi tidak semata-mata untuk memenuhi kepentingan pribadinya, tetapi juga karena ia peduli pada orang lain.

A Revised-Face Negotiation Theory
Ting-Toomey merevisi diagram yang ditawarkannya dengan melihat bahwa tidak hanya budaya yang mempengaruhi gaya managemen konflik orang. Ia menambahkan perhatian pada power (kekuasaan) pada teorinya.
Konflik Gaya Baru
Karena selama ini menggunakan sample penelitian orang Barat, Ting-Toomey melihat ada sesuatu yang kurang dalam teorinya ketika penelitiannya mengacu pada keragaman etnik yang ada di dunia. Ia kemudian menambahkan gaya:
 emotional expression, menunjukkan segala perasaan yang dimiliki hati dan diriku,
passive aggression, tanpa benar-benar mengatakan bahwa seseorang malas, berusaha membuat orang lain merasa bersalah, dan
third-party help, mencari bantuan pihak ketiga sebagai penengah agar jalan keluar bisa dicapai.

Power Distance
Hofstede mendefinisikan power distance sebagai suatu perluasan di mana anggota mayarakat dengan power yang lebih lemah menerima bahwa power sebenarnya terdistribusi secara tidak sama (unequal).sebagai contoh, masyarakat dengan fragmentasi sosial yang tinggi seperti Meksiko, menerima bahwa kekuasaan memang tidak terdistribusi secara sama. Karena itu mereka menerima sistem pemerintahandan pengambilan keputusan yang autokratis. Sebaliknya di Amerika Serikat, di mana setiap individu disebut-sebut memiliki hak yang sama, sistem pemerintahannya demokratis.

Application: Competent Intercultural Facework
Tujuan utama yang hendak dicapai oleh teori milik Ting-Toomey ini adalah mengidentifikasi bagaimana orang-orang dengan budaya yang berbeda dapan bernegosiasi (negotiate face) atau menangani konflik. Menurutnya, ada tiga syarat ketrampilan yang harus dipenuhi agar komunikasi antarbudaya bisa efektif, yaitu:

Knowledge─pengetahuan, adalah dimensi terpenting dalam kompetensi facework. Untuk bisa berkomunikasi dengan orang baru, kita harus tahu hal-hal yang berbeda antara kita dengannya. Dari situ kita bisa mengatur strategi apa yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengannya

Mindfulness─artinya waspada terutama pada asumsi, sudut pandang, dan kecenderungan etnik kita sendiri ketika kita memasuki situasi yang tidak biasa (unfamiliar situation). Minfulness adalah memperhatikan perspektif dan interpretasi orang lain yang asing bagi kita dengan memandang intercultural episode.

Interaction skill─yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara tepat, efektif, dan adaptif dalam setiap situasi yang kita alami.

Kritik: Confounded by Individual Differences─Dikacaukan oleh Perbedaan-Perbedaan Individual
Beberapa kritik yang dilontarkan pada teori ini adalah:
 Contoh yang diberikan dalam teori ini menggambarkan budaya kolektivisme orang Jepang dan budaya individualisme orang Amerika Serikat. Namun sangat berbahaya menciptakan stereotype yang general bagi masyarakat Jepang atau Amerika Serikat. Kenyataannya, ketika digambarkan dalam satu garis lurus, ada area yang overlapping atau tumpang tindih antara perilaku kolektivisme atau individualisme masyarakat Jepang maupun Amerika Serikat.
 Ting-Toomey memperkenalkan konsep independent dan interdependent dengan mengacu pada ‘derajat di mana orang akan merasa dirinya adalah manusia otonom atau terhubung dengan orang lain’. Markus dan Kitayama menyebutnya dengan self-construal atau self-image. Karenanya kemudian Ting-Toomey merevisi teori face-negotiation-nya menjadi:

Type of culture ─ Type of self-construal ─ Type of face-maintenance ─ Type of conflict management

Anxiety/Uncertainty Management Theory (William Gudykunst ): Sebuah Review

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

Mengenal Orang Asing

Teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) memusatkan bahasannya pada pertemuan antara budaya kelompok (cultural in-group) dengan orang asing (stranger). Gudykunst ingin teorinya dapat diaplikasikan di berbagai situasi di mana perbedaan antar manusia menimbulkan keraguan dan ketakutan. Ia berasumsi bahwa sedikitnya ada seseorang dalam sebuah intercultural encounter (pertemuan antar budaya) yang menjadi orang asing (stranger). Yaitu ketika ada sederet perasaan yang dialaminya, yaitu anxiety (kegelisahan) dan uncertainty (ketidakpastian)─merasa tidak aman dan tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Gudykunst memperjelas bahwa AUM memang adalah sebuah terori yang sedang dalam keadaan construction. Teori ini bermaksud menjembatani gap/ batas budaya melalui komunikasi yang efektif.

Effective Communication: Hasil dari Mindfulness
Menurut Gudykunst, term effective communication sebagai proses untuk meminimalisasikan misunderstanding. Penulis lain menganggapnya sama dengan istilah accuracy (keakuratan), fidelity (kejituan), dan understanding (pengertian). Ia menganggap suatu komunikasi itu efrktif jika seseorang dapat memprediksi dan menjelaskan perilaku pihak yang lain. Teori AUM sendiri didesain untuk menjelaskan komunikasi face-to-face yang efektif. Komunikasi yang mindfulness adalah komunikasi yang mengurangi anxiety dan uncertainty, bukan malah menambahnya. Dan ini bisa dilakukan dengan memperhatikan ketika orang lain berbicara dan mencari tahu bagaimana menanggapinya dengan tepat.

William Howel menawarkan empat level kompetensi komuniksi, yaitu:
1. unconscious incompetence. Kita salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan bahkan tidak sadar bahwa kita melakukannya. Pengabaian adalah kebahagiaan.
2. conscious incompetence. Kita tahu bahwa kita salah menginterpretasikan sikap orang lain, tetapi kita tidak melakukan apapun untuk itu.
3. conscious competence. Kita memikirkan komunikasi kita dan secara terus-menerus berusaha mengubah hal yang kita lakukan agar komunikasi kita lebih efektif.
4. unconscious competence. Kita telah membangun ketrampilan berkomunikasi pada tingkatan ketika kita tidak perlu lagi harus berpikir tentang bagaimana kita berbicara atau mendengarkan.
Menurut Gudykunst, mindfulness berarti komunikasi kita berada pada level 3.

Anxiety (Kegelisahan) dan Uncertainty (Ketidakpastian): Twin Offspring of Cultural Variability
Gudykunst percaya bahwa penyebab dasar kegagalan komunikasi dalam situasi intergrup adalah anxiety dan uncertainty. Keduanya berhubungan erat, tetapi Gudykunst membedakan keduanya. Uncertainty adalah kognitif─pengertian, dan anxiety adalah afektif─emosi. Uncertainty adalah pikiran, dan anxiety adalah perasaan. Gudykunst mendefinisikan anxiety sebagai perasaan gelisah, tekanan, khawatir atau takut akan hal yang akan terjadi. Gudykunst membuat generalisasi tentang hal ini, yaitu semakin lebar gap antar budaya, maka semakin tinggi pula level anxiety dan uncertainty yang dialami seseorang.

Namun anxiety dan uncertainty tidak selamanya buruk. Menurut Gudykunst, level minimal dari keduanya tetap dibutuhkan untuk menghindarkan kita dari malas, bosan, dan terlalu percaya diri dalam memprediksi sesuatu. Namun sedikit saja keduanya melewati ambang batas useful stimulation, ini akan menyebabkan kegagalan dalam komunikasi.

Mengatur Anxiety dan Uncertainty ketika Ada Budaya yang Bertentangan
Bagaimana menciptakan komunikasi yang efektif? Gudykunst menampilkan 37 aksioma yang terpisah, yang dikelompokkannya ke dalam enam kategori. Setiap aksioma menjelaskan variabel spesifik yang mempengaruhi level anxiety dan uncertainty. Di bawah ini akan ditampilkan 10 aksioma Gudykunst, yaitu:

Self dan Self-Concept
Axiom 5: kenaikan dalam self-esteem (kebanggaan) dalam diri kita ketika kita berinteraksi dengan orang lain akan menaikkan pula kemampuan kita dalam mengatur anxiety kita.

Symbolic interactionism dari Mead menawarkan self-image dengan memperhatikan bagaimana orang lain melihat kita─the looking glass self. Dasar itulah yang terlihat dalam aksioma di atas. Ketika kita merasa bangga pada diri kita, rasa percaya diri juga akan tumbuh. Di saat kita merasa percaya pada diri kita, kegelisahan kita ketika mnghadapi orang lain, akan berkurang.

Motivasi untuk Berinteraksi dengan Orang Asing
Axiom 7: kenaikan dalam kebutuhan merasa diterima dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menaikkan anxiety kita.
Ketika kita begitu ingin diterima dalam suatu kelompok, kita akan makin gelisah dan pikiran kita akn dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana harus bersikap, apa yang harus dikatakan agar kita bisa diterima di kelompok itu.

 Reaksi terhadap Orang Asing

Axiom 12: kenaikan dalam ketrampilan kita untuk secara kompleks memproses informasi tentang orang asing akan menaikkan kemampuan kita dalam memprediksi perilaku mereka secara akurat.
Teori constructivism dari Delia menggagas bahwa orang dengan kemampuan kognitif yang kompleks memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
Axiom 15: semakin tinggi kemampuan kita untuk mentolerir ambiguitas ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan meningkatkan kemampuan kita dalam mengontrol anxiety kita dan meningkatkan kemampuan kita untuk secara akurat, memprediksi perilaku orang asing.

Axiom 16: semakin tinggi kemampuan kita untuk berempati kepada oran gasing akan semakin tinggi pula kemampuan kita untuk memprediksi perilaku orang lain secara akurat.

 Pengkategorian Sosial Orang-Orang Asing

Axiom 20: semakin tinggi persamaan personal yang kita rasakan antara kita dengan orang asing, semakin tinggi pula kemampuan kita untuk mengontrol anxiety dan kemampuankita dalam memprediksi perilakunya. Boundary condition: mengerti perbedaan kelompok itu kritikal hanya jika ketika seorang asing benar-benar punya banyak persamaan dengan kelompok.

Axiom 25: semakin tinggi kewaspadaan kita terhadap pelanggaran orang asing terhadap keinginan positif kita atau penegasan trhadap keinginan negative kita, semakin tinggi pula anxiety kita dan semakin menurun rasa percaya diri kita untuk memprediksi perilaku mereka.

 Situational Precesses

Axiom 27: peningkatan situasi informal ketika kita berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan anxiety kita dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku orang asing.

 Connection with Strangers

Axiom 31: peningkatan ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan anxiety kita dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilakunya.

Axiom 37: peningkatan network (jaringan) yang kita bagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan anxiety dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilakunya.

Kritik: Overwhelmed by Intergroup Variables─Dipenuhi dengan Variabel-Variabel Intergroup
Beberapa kritik yang ditujukan para ahli pada teori ini adalah:
 Jika teori uncertainty reduction dari Berger menampilkan 7 aksioma yang diperluas menjadi 21 teorem, Gudykunst dalam AUM malah menawarkan 47 aksioma yang bisa diperluas lagi. Nampaknya sulit merangkul semuanya dalam hubungan anxiety, uncertainty, mindfulness, dan effective communication.

 Pada aksioma 47, disebutkan bahwa peningkatan kemampuan kita dalam mengontrol anxiety mengenai berinteraksi dengan orang asing dan peningkatan pada prediksi yang akurat serta penjelasan mengenai perilakunya, akan menghasilkan peningkatan pada keefektifan komunikasi kita. Meskipun aksioma inti ini sifatnya conditional, tetap saja aksioma ini bermaksud menyatakan bahwa hanya dengan ‘mindful’ terhadap orang asing, komunikasi yang efektif bisa tercapai. Gudykunst lantas menambahkan anxiety dan uncertainty di bawah ambang batas tidak akan menghsilkan peningkatan dalam keefektifan. Dan dan anxiety serta uncertainty di atas ambang batas maksimum akan menyebabkan penurunan keefektifan.

The Media Equation (Byron Reeves dan Clifford Nass): Sebuah Review

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

Reeves dan Nass tertarik pada cara orang berinteraksi dengan television, computer, dan media high-tech lainnya. Berdasarkan research program yang akan dipaparkan di bawah ini, Reeves dan Nass yakin bahwa orang memperlakukan media komunikasi seperti memperlakukan manusia.

The Media Equation: Media = Real Life
Dalam bukunya, The Media Equation, Reeves dan Nass menggagas bahwa kita menanggapi (response) media komunikasi seolah-olah media itu hidup. Implikasi praktis dari media equation ini adalah ketika kita menyalakan TV atau komputer kita, kita mengikuti aturan dari interpersonal interaction yang kita lalui selama hidup kita. Ini adalah human-media relations. Reeves dan Nass mengatakan bahwa media equation ini sifatnya sangat basic atau mendasar, jadi, “it applies to everyone, it applies often, and it is highly consequential”.

Beyond Intuition that Protests: “Not Me, I Know A Picture Is Not A Person”
The media equation jelas-jelas counterintuitive. Ketika kita menonton TV atau browsing internet, tidak seorangpun dari kita yang akan mengakui bahwa kita sebenarnya tengah merespons gambar-gambar di layar seolah-olah gambar-gambar itu nyata. Kita tahu bahwa yang ada di layar adalah gambar-gambar imajiner atau hanya representasi dari benda aslinya. Reeves dan Nass menyatakan sebaliknya. Keduanya menyatakan bahwa sebenarnya orang merespons media secara sosial (socially) dan alami (naturally), meskipun mereka mereka tahu itu adalah hal yang tidak masuk akal untuk dilakukan , dan meskipun mereka tidak berpikir bahwa respons itu mencirikan diri mereka sendiri. Suatu kondisi di mana perilaku kita tidak dipengaruhi atau disesuaikan dengan situasi yang kita alami. Di satu sisi kita bilang “not me” yang merepresentasikan bahwa kita adalah makhluk independen dan kita sadar bahwa yang kita lihat adalah buatan. Di sisi lain, kita menanggapi gambar-gambar itu seperti kita tengah melakukan interaksi interpersonal dengan seseorang.

Otak Lama Dibodohi Teknologi Baru
Untuk menjelaskan alasan mengapa manusia menanggapi media secara sosial dan alami, Reeves dan Nass menggunakan teori langkah evolusi yang lambat. Menurut mereka, otak manusia terlibat hanya dalam aktivitas dan perilaku sosial, dan melihat semua objek yang dirasakan adalah benda nyata. Apapun yang kelihatan nyata, menjadi benara-benar nyata. Jadi sebenarnya kita belum beradaptasi dengan keberadaan media baru sehingga apapun yang kelihatan nyata, dipersonifikasikan oleh kita.

Orang tentu saja bisa berpikir bahwa diri mereka tidak primitif dan tidak dapat begitu saja dikontrol media. Misalnya ketika kita menonton film horror, kita terus berusaha menghilangkan rasa takut atau rasa sedih kita dengan berkata pada diri sendiri, “ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Ini bohong”. Namun sayangnya, jarang sekali kita melakukan itu. Kalaupun kita berusaha melakukannya, kita tidak mampu melakukannya secara konsisten atau terus-menerus ketika gambar-gambar dan suara-suara itu ada tepat di hadapan kita.

Membuktikan The Equation


Interpersonal Distance─jarak interpersonal. Sebuah penelitian dilakukan mengenai perubahan emosi, sikap, dan gesture beberapa orang ketika mereka sedang berhadapan dengan gambar orang yang tengah berbicara kepada mereka di layar TV dengan jarak yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa jarak antara penonton dengan TV berpengaruh terhadap perubahan sikap, emosi, dan gesture penonton. Menurut Reeves dan Nass, orang beranggapan bahwa sebuah gambar wajah, berhubungan dengan ukurannya, hanya merupakan simbol yang merepresentasikan orang yang tidak benar-benar ada di situ. Namun lebih dari itu, ukuran wajah secara luas mempengaruhi response psikologis─dari rasa ingin mendekat, sampai penilaian terhadap karakter.

Similarity and Attraction─persamaan dan daya tarik. Microsoft dan Macintosh memproduksi dua jenis software computer. Yang pertama Max, yaitu komputer yang menggunakan kata-kata perintah, menunjukkan dominansi terhadap pemakai. Yang kedua bernama Linus, yaitu komputer yang menggunakan kata-kata submissive. Reeves dan Nass menyatakan hal ini berpengaruh pada para pemakai komputer. Menurut mereka, ketika mesin dilengkapi dengan personality-like characteristics, orang akan merespons mesin seolah-olah benda itu punya personality. Meskipun orang-orang ini menyatakan bahwa mereka tidak percaya mesin benar-benar punya kepribadian.

Source Credibility─kredibilitas sumber. Misalnya, ketika kita mendengar dari teman kita tentang insiden pemboman di suatu daerah, kita tidak akanmudah percaya. Tetapi ketika kita menonton berita mengenai pemboman itu di TV lewat pembawa acra berita yang terkenal dan kredibel seperti Rosiana Silalahi, kita tentu akan lebih percaya pada Rosiana. Meskipun kita tahu bahwa mungkin saja Rosiana hanya membacakan berita saja tanpa menulis berita itu.

Kritik: One-Way Relationship yang Menggugah Rasa Ingin Tahu
Beberapa kritik yang disampaikan bagi teori ini adalah:
 Reeves dan Nass menggunakan konsepsi interpersonal communication dari sosial psikologi, bukan dari bidang komunikasi. Kebanyakan social-psych research melihat interpersonal communication sebagai komunikasi satu arah (one-way). Sebaliknya, kebanyakan ahli komunikasi mendefinisikan interpersonal communication sebagai the construction of shared meaning yang mempelajari pesan two-way flow, yang kemudian menciptakan common interpretation.
 Reeves dan Nass telah menunjukkan hasil yang mengejutkan mengenai anggapan mereka bahwa media berdampak pada parallel interpersonal effects. Namun ketika media equation ini diterapkan dalam beberapa penamuan mengenai shared meanings seperti constructivism, relational dialectics, atau program penelitian interpersonal lain, teori media equation lebih seperti metaphor yang kuat daripada kepastian matematis.

Agenda-Setting Theory (Maxwell McCombs dan Donald Shaw): Sebuah Review

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

The Original Agenda: Not What to Think, but What to Think About
McCombs dan Shaw percaya bahwa media massa memiliki kemampuan untuk mentransfer hal yang menonjol yang dimiliki sebuah berita dari news agenda mereka kepada public agenda. Pada saatnya, media massa mampu membuat apa yang penting menurutnya, menjadi penting pula bagi masyarakat. Bernard Cohen bahkan menyatakan bahwa pers bisa hampir selalu berhasil dalam menentukan what to think, tetapi yang lebih mencengangkan adalah bahwa pers juga berhasil menentukan what to think about.

McCombs dan Shaw menyatakan bahwa teori agenda-setting menyuarakan 2 fitur yang menarik, yaitu; bahwa teori ini menegaskan kembali tentang kekuatan pers sementara tetap memelihara keadaan bahwa tiap-tiap individu memiliki kebebesan untuk memilih. Focus pada kampanye-kampanye pemilihan, kedua ahli ini membuat hipotesis yang memprediksikan a cause-and-effect relationship antara isi media dengan persepsi pemilih.

Media Agenda dan Public Agenda: A Close Match
Karena kedua ahli ini memfokuskan bahasannya pada kampanye politis, hal pertama yang mereka lakukan adalah mengukur agenda media. Mereka membangun position dan length berita. Tujuannya jelas. Membuat agenda media ini menjadi agenda publik.

Apa Menyebabkan Apa?
Kedua ahli ini percaya bahwa hipotesis mengenai fungsi agenda-setting media bertanggung jawab akan hampir semua korelasi sempurna yang mereka temukan antara media dengan susunan prioritas publik. Artinya, media yang menentukan apa yang penting dan menjadi prioritas bagi msyarakat.

Media Agenda → Voters’ Agenda

Namun, kritik dari cultivation theory mengingatkan kita bahwa correlation (korelasi) bukanlah causation (penyebab). Sangat mungkin bahwa televisi, radio, dan koran merefleksikan keadaan sebenarnya yang telah ada.

Voters’ Agenda → Media Agenda

Karena yang menjadi perhatian dari teori agenda-setting adalah peran media dalam mempengaruhi susunan prioritas publk, berikut ini adalah contoh mengenai hipotesis itu: ketika media memilih untuk memberitakan kasus pemberian visa kepada 43 orang warga Papua oleh pemerintah Australia, dan dikecam oleh pemerintah Indonesia, semua orang membicarakan masalah ini. Masalah itu telah menjadi masalah nasional maupun internasional. Media memilih berita itu sebagai hal yang penting, bukan berita lainnya. Maka masalah inipun menjadi perbincangan hangat di mana-mana di Indoensia. Masyarakat juga antusias memperbincangkan masalah pemuatan karikatur presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyodomi orang Papua. Kenapa? Lagi-lagi karena media memuatnya.

Who Sets The Agenda for The Agenda Setter?
Sebelum sebuah berita dimuat di media, setiap naskah berita harus melalui the gatekeepers yang tugasnya adalah menentukan naskah mana yang akan dimuat atau tidak dimuat. Namun ada pihak-pihak yang mengatur dan memonopoli pemuatan naskah berita. Pihak-pihak itu adalah para kapitalis, pemilik media massa raksasa yang bukan hanya menentukan berita mana yang akan dimuat di medianya, tetapi bahkan media lain. Ini berhubungan dengan power dan source credibility. Media yang memiliki kekuatan dan akar kuat dalam masyarakat akan lebih dipercaya daripada media kecil atau media baru.

Siapa yang Paling Dipengaruhi oleh Agenda Media?
McCombs dan Shaw mengerti bahwa orang bukan makhluk otomatis yang hanya bisa menunggu untuk diprogram oleh media. Mereka menduga ada orang-orang yang lebih resisten terhadap prioritas politik media. Kedua ahli ini kemudian memunculkan uses and gratification approach (pendekatan kegunaan dan kepuasan) yang menggagaskan bahwa penonton bersifat selektif pada acara televisi yang mereka tonton. Mereka menyimpulkan bahwa orang membiarkan media membentuk cara berpikir mereka jika mereka memiliki need for orientation (kebutuhan akan pegenalan) atau index of curiosity (indeks penasaran). Need for orientation tumbuh dari relevance (hal-hal yang kita anggap penting dan menarik atau kesesuaian antara aspek apa yang diangkat dengan keinginan kita) dan uncertainty (ketidakpastian) yang tinggi.

Framing: Transferring The Salience of Attributes
Mantra agenda-setting adalah ‘the media aren’t very successful in telling us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about’. Artinya media membuat suatu isu menjadi more salient (semakin menonjol). Bagaimana membuat khalayak makin ingin tahu berita itu dan makin menganggapnya penting. Namun setelah itu, McCombs berkata bahwa media melakukan lebih daripada itu. Media mempengaruhi cara berpikir kita. Ia menyebut proses ini, framing.
James Tankard mendefinisikan media frame sebagai ‘pusat ide yang mengorganisasikan isi news yang mensuplai konten dan menggagaskan sebuah isu agar melalui selection (penyeleksian), emphasis (penekanan), exclusion (pegeluaran), dan elaboration (perluasan)’. Keempat istilah ini menggagas bahwa media tidak hanya menyusun agenda untuk isu, acara, atau kandidat mana yang paling penting, tetapi juga mentransfer hal-hal menonjol (salience) dari specific attributes yang dimiliki objek potensial kepentingan.
Menurut Robert Entman, konsep framing dijelaskan sebagai: ‘the frame adalah memilih beberapa aspek tentang realita yang dirasakan dan membuatnya lebih menonjol dalam teks komunikasi, dengan cara mempromosikan sebuah definisi masalah yang khusus, interpretasi kausal (causal interpretation), evaluasi moral dan atau rekomendasi perlakuan terhadap berita yang dibahas.

Not Just What to Think About, but How to Think About It
Framing bukan pilihan. Media selalu mencari bahan yang mereka anggap newsworthy (bernilai berita). Ketika mereka menemukan itu, mereka melakukan lebih dari sekadar menentukan what to think about. McCombs dan Shaw mendeskripsikan agenda-setting sebagai hal yang jauh lebih kuat daripada fungsi media: ‘The media may not tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it’.

Beyond Opinion─The Behavioral Effect of Media’s Agenda
Sebagian besar dari 350 studi empiris tentang agenda setting mengukur efek agenda-agenda media pada public opinion. Namun sedikit yang mempertanyakan penemuan yang menggagas bahwa media priorities juga mempengaruhi people’s behavior. Beberapa peristiwa membuktikan gagasan itu. Shaw dan McCombs juga menyatakan tentang fungsi penting media, yaitu agenda-melding (agenda keanggotaan). Seringkali media memuat tulisan mengenai suatu komunitas atau kelompok. Orang-orang cenderung berkelompok. Lewat tulisan di media itu, orang-orang tahu akan keberadaan komunitas tertentu. Mereka bergabung dengan komunitas itu. Dampak negatif yang ditimbulkan adalah, orang-orang jadi lebih suka berkumpul di komunitas itu daripada bergaul dengan tetangga mereka.

Kritik: Apakah Efeknya Terlalu Terbatas, Ruang Lingkupnya Terlalu Luas?
Beberapa kritik yang dilancarkan pada teori ini adalah:
 Popularitas framing sebagai interpretative construct dalam studi media telah menghasilkan makna yang ambigu dan berbeda-beda.
 Jika penelitian media-setting menjadi sangat luas (all-inclusive) sehingga setiap pernyataan yang berhubungan dengan media disebut sebagai media frame, teori ini bisa kehilangan fokus dan kekuatan.

Cultivation Theory (George Gerbner)

Disarikan dari E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

George Gerbner menyatakan bahwa penggemar berat televisi (TV) sebenarnya membangun kepercayaan yang terlalu berlebihan pada a mean and scary world. Kekerasan yang mereka lihat di TV dapat menanamkan sebuah social paranoia yang berlawanan dengan pemikiran tentang lingkungan yang aman dan keberadaan orang-orang yang dapat dipercaya. Gerbner melihat TV sebagai kekuatan dominan dalam membentuk masyarakat modern. Dan ia yakin bahwa kekuatan TV terletak pada symbolic content dari real-life drama yang ditampilkannya setiap saat. Setelah broadcast berkembang, TV mendominasi lingkungan symbols, yang menceritakan sebagian besar cerita pada masyarakat dengan durasi waktu terbanyak.

Menurut Gerbner, yang disaksikan penonton TV setiap harinya adalah unsur kekerasan (violence). Ia menyatakan bahwa kekerasan adalah cara dramatic termudah dan termurah untuk menunjukkan siapa yang menang dalam permainan hidup. Dan ia sangat khawatir pada dampak yang lebih luas dan secara potensial, dapat merugikan, yaitu bahwa kekerasan TV meyakinkan penonton bahwa benar-benar ada “a jungle out there ” (rasa tidak aman yang besar).

Intinya, Gerbner membahas hubungan antara media komunikasi dengan kekerasan.

Indeks Kekerasan
Untuk mengukur tingkat kekerasan yang ditampilkan TV, Gerbner menggariskan aturan-aturan sebagai tuntunan pelaksanaannya. Yang pertama, ia menetapkan definisi dramatic violence sebagai ‘ekspresi yang merupakan tindakan dengan maksud buruk lewat kekuatan fisik (dengan atau tanpa senjata, melawan diri sendiri atau orang lain) tindakan memaksa untuk melawan keinginan orang lain dengan menimbulkan rasa sakit dan atau terbunuh atau diperlakukan sangat victimized sebagai bagian dari rencana’. Setelah itu, ia mengukur level kekerasan secara keseluruhan. Hasilnya, indeks tahunan yang ditemukan tentang level kekerasan, sungguh stabil.

Kekerasan yang Sama; Resiko yang Berbeda
Dari sekian banyak acara TV yang menampilkan gambaran kekerasan, karakter-karakter kepahlawanan kebanyakan menampilkan inequality yang besar terhadap usia, ras, dan gender pada saat menerima kekerasan terakhir. Orangtua dan anak-anak lebih banyak disakiti atau dirugikan daripada remaja dan orang dewasa. Dalam kasus ‘victimage’, keturunan Afrika-Amerika dan Hispanic dibunuh atau dipukuli lebih banyak daripada keturunan Caucasian. Orang kulit hitam digambarkan sebagai orang yang kasar dan cenderung menggunakan kekerasan. Sangat mengejutkan ketika TV menampilkan underrepresentation akan kelompok minoritas.
Kesimpulannya, proyek Cultural Indicator yang dibuat Gerbner mengungkapkan bahwa orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat Amerika diposisikan dalam a symbolic double jeopardy (bahaya simbolik ganda). Keberadaan mereka dikecilkan, dan di saat yang sama, kerawanan mereka terhadap kekerasan, dilebih-lebihkan.

Membangun Profil Viewer
Gerbner melakukan survey tentang behavior dan attitudes penonton TV. Ada dua kategori pemirsa TV menurutnya, yaitu penonton yang “light” dan “heavy”. Light user adalah penonton yang menonton TV tak lebih dari 2 jam sehari. Light user selektif dalam memilih acara TV yang mereka tonton. Serignkali hanya acara favoritnya saja. Sedangkan heavy user adalah penonton yang menonton TV minimal 4 jam sehari dan menonton TV secara terus-menerus. Menurut Gerbner, heavy user melihat dunia lebih berbahaya daripada occasional atau light user.

Pikiran yang Dibajak atau Dibentuk oleh Televisi Menumbuhkan Fearful Thoughts
Karena Gerbner percaya bahwa kekerasan adalah tulang punggung dari drama TV, dan karena setiap orang memiliki durasi waktu yang berbeda dalam menonton TV, Gerbner mencoba menemukan the cultivation differential. Yaitu perbedaan dalam persentase memberikan “television answer” dalam perbandingan kelompok light dan heavy viewers. Menurut Gerbner, TV telah masuk dalam kehidupan manusia ketika dalam usia yang sangat dini. Ia melihat 4 hal dalam surveynya, yaitu:

Chances of involvement with violence. Heavy user diprediksikan terlibat dalam violence lebih sering daripada light user. prediksi ini bergantung pada keinginan yang hebat dari para heavy user untuk membenarkan agresi fisik. Kenyataannya, anak-anak yang sering menonton TV setuju bahwa kita boleh memukul orang lain jika kita marah terhadap mereka dengan alasan yang bagus.
Fear of walking alone at night. Heavy users cenderung melebih-lebihkan (overestimate) aktivitas kriminal, dan percaya bahwa aktivitas kriminal ini sepuluh kali lebih buruk daripada yang sebenarnya terjadi.
Perceived activity of police. Heavy viewers percaya bahwa 5 persen masyarakat terlibat dalam law enforcement.
General mistrust of people. Heavy viewers mencurigai motif-motif tindakan orang lain. mereka akan berkata, ‘lakukan suatu hal terhadap orang lain sebelum mereka melakukan hal itu terhadapmu’. Mereka hidup dalam kecurigaan dan tidak pernah bisa mempercayai orang lain.

Mainstreaming
Mainstreaming digunakan Gerbner untuk menggambarkan proses ‘mengaburkan, mencampur, dan membelokkan’, yang dialami heavy viewers. TV membangun a commonality of outlook. TV menghomogenisasi penontonnya supaya heavy viewers memiliki kesamaan orientasi, perspektif, dan makna satu sama lain. Menurut Gerbener, television answer adalah the mainstream.

TV mengaburkan perbedaan politik dan ekonomi. Misalnya, presiden SBY ketika dulu berkampanye lewat AFI Indosiar, penonton melihat itu sebagai hiburan dan kepentingan ekonomi Indosiar. Padahal itu adalah kampanye politik utnuk memperebutkan kekuasaan.
Heavy viewers menganggap dirinya sebagai politikus moderat. Sebagian besar tokoh dalam drama TV tidak menyukai aliran ekstrim, kanan maupun kiri. Namun perilaku mereka, menurut Cultural Indicator, adalah konservatif. Maka the mainstream bukanlah middle of the road.

Resonance
Gerbner juga menjelaskan mengenai ketakutan yang besar dalam diri viewers dengan proses resonance. Banyak viewers pernah mengalami tindak kekerasan dalam hidup mereka. TV dapat menyebabkan viewers mengingat kembali peristiwa itu lewat tayangan berulang-ulang yang merupakan gambaran symbolic atas peritiwa itu. Heavy viewers harus mengalami kekerasan fisik yang sama dengan dosis ganda.

Kritik: Apa The Cultivation Differential Itu Nyata, Luas, Krusial?
Kritik mendasar terhadap teori Gerbner adalah:
 Definisi violence-nya menuai banyak kritik dari segi program yang dipilihnya untuk analisis isi, keputusannya untuk mengumpulkan bersama semua tipe program dramatic (action, opera sabun, sitcom, dsb), asumsinya bahwa selalu ada television answer yang konsisten, caranya memilih responden yang tidak random, standar pengukuran light dan heavy viewers hanya berdasarkan perhitungan waktu per hari yang sederhana, metode statistiknya dalam menganalisis data, interpretasinya pada data korelatif , dsb.